Pada Sabtu (03/06/2017) tepat setelah adzan maghrib berkumandang di Stasiun Tebet, menjadi titik awal pertemuan saya dengan Ibu Fulanah. Ya, merupakan kecerobohan saya dalam berinteraksi dengan orang baru yaitu LUPA menanyakan NAMA. Sehingga saya memanggilnya Ibu Fulanah. Semoga beliau diberikan kesehatan selalu oleh-Nya.
Ibu Fulanah, seorang pahlawan kebersihan. Begitu saya menyebutnya, dan ketika saya menulis ini bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada 5 Juni. Ibu Fulanah, sosok yang menginspirasi saya, seakan menampar saya untuk selalu bersyukur. Memang Allah mengirimkan banyak 'pengingat' melalui siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Singkat cerita, setelah adzan maghrib saya naik salah satu kereta tujuan Bogor untuk menghadiri acara buka bersama salah satu organisasi yang sedang saya handle. Saya cenderung untuk masuk di gerbong wanita untuk mengurangi risiko atas hal-hal yang tidak diinginkan. Kebetulan saat itu tempat duduknya memang tidak ada yang kosong, dan menjadi kebiasaan saya untuk mencari pintu yang "kosong" sebagai sandaran 😅. Ternyata saya tidak sendirian, beridirilah seorang ibu (yang kemudian saya menyebutnya Ibu Fulanah). Hari itu saya sedang tidak menjalankan ibadah shaum dan kebetulan Ibu Fulanah juga sama sehingga beliau memilih untuk berdiri karena kata beliau
Takut nembus neng.
Ah, hal tersebut lumrah bagi kaum hawa, karena pada waktu awal menstruasi dan untung lah dengan begitu saya mendapat banyak pelajaran hidup dari beliau.
Mulai lah saya bercakap-cakap dengan beliau. Ibu Fulanah seorang pahlawan kebersihan DKI Jakarta sejak tahun 1998. Beliau dahulu tinggal di kawasan Jakarta Pusat dan bertugas disana setiap harinya sampai pukul 13.00. Beliau bercerita bahwa beliau ingin mengunjungi anaknya yang sudah berkeluarga di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan dan memilih menggunakan commuter line karena lebih efisien dalam hal waktu. Kembali lagi kilas balik tahun 1998, Ibu Fulanah bercerita bahwa dahulu pengelola petugas kebersihan adalah perusahaan/swasta dengan gaji yang bisa dikatakan rendah yaitu kisaran dua ratus ribu rupiah (Rp 200.000). Belasan tahun mengabdi, Ibu Fulanah semakin bersyukur karena jasanya sebagai petugas kebersihan (pasukan oranye) semakin dihargai dengan gaji setara dengan UMR Jakarta yaitu sekitar tiga juta tiga ratus ribu rupiah (Rp 3.300.000).
Mengapa kemudian saya memanggilnya dengan sebutan pahlawan? Karena pahlawan akan terus mengabdi, seberapa pun balasan yang akan ia terima. Ibu Fulanah berkata kepada saya,
Sekarang mah enak neng, dulu aja gaada yang mau. Karena sekarang gajinya lumayan aja tuh. Tapi alhamdulilah saya tetap bersyukur karena ngerasain dari yang susahnya sampai enaknya sekarang ini.
Bayangkan saja, jika pahlawan kebersihan seperti Ibu Fulanah tidak ada sudah seperti apa kotornya Kota Jakarta kita tercinta ini? Sudah selayaknya pahlawan seperti Ibu Fulanah mendapatkan ganjaran yang sesuai dengan usahanya. Pekerjaan yang dipandang sebelah mata tetapi sangat bermakna.
Saya juga sangat yakin bahwa rezeki sudah diatur oleh sang Maha Pencipta, buktinya dengan pekerjaannya sebagai abdi kebersihan Ibu Fulanah mampu menyekolahkan kelima anaknya. Meskipun anak bungsunya belum mampu mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan, tapi beliau sangat bersyukur karena setidaknya anak bungsunya telah lulus Sekolah Menengah Kejuruan.
Malu lah kamu, jika kamu masih suka buang sampah sembarangan. Bukan, BUKAN IBU FULANAH yang disebut sebagai TUKANG SAMPAH tapi KAMU. Iya, KAMU yang dengan bangganya meninggalkan bekas minuman, makanan, atau apa pun di tempat yang bukan seharusnya. Maka, julukan yang lebih tepat untuk Ibu Fulanah adalah PAHLAWAN KEBERSIHAN. Tidak, saya berkata seperti ini bukan maksud menggurui, tapi sadarlah bahwa jika kamu mampu menahan untuk tidak membuang sampah sembarangan bukan hanya meringankan tugas Ibu Fulanah tetapi kamu ikut berkontribusi untuk menjaga kebersihan Kota Kesayanganmu ini. Jakarta sudah semrawut loh, masa kamu mau menambahya dengan membiarkan sampah-sampah bertebaran?
Hikmah yang dapat saya petik dari pertemuan saya dengan Ibu Fulanah adalah:
- Bersyukur atas apa yang saya miliki saat ini. Entah itu status saya sebagai mahasiswa, sebagai anak, dan sebagai hamba-Nya. Bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada saya. Terkadang saya merasa kufur nikmat karena terlalu sering melihat 'ke atas' namun, begitu baik Allah mengingatkan saya lewat pertemuan dengan Ibu Fulanah. Lihatlah Ibu Fulanah masih dengan mudah tersenyum riang saat menceritakan pengalamannya kepada saya. Satu hal, saya selalu percaya dan yakini adalah kalimat "pengalaman adalah guru terbaik". Tiada suatu improvisasi jika tidak diawali dengan pengalaman, entah itu pengalaman baik mau pun buruk.
- Apresiasi segala jenis pekerjaan yang dijalani orang lain. Apa pun pekerjaan itu selagi halal, maka patut untuk kita apresiasi. Jangan sampai kita meremehkan pekerjaan orang lain, JANGAN. Belum tentu kamu atau saya mampu untuk melakukannya.
- Keharmonisan suatu keluarga bukan hanya berasal dari materi atau bukan hanya 'orang kaya' yang berhak untuk bahagia. Ketika saya mengaitkan pertemuan saya dengan Ibu Fulanah dan tausyiah yang diberikan salah satu uztad ternama di Indonesia ternyata memiliki korelasi.
Allah akan ridha pada keluarga yang memakan dari harta yang halal. Belum tentu keluarga yang sangat berkecukupan memiliki keharmonisan sama seperti keluarga yang tinggal di pelosok hutan dengan berbagai kekurangannya namun mereka tetap bersyukur.
MasyaAllah, Allah Maha Mengetahui dan Allah akan memberikan keberkahan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki, dan salah satunya adalah keluarga Ibu Fulanah. Kini keempat anak perempuannya sudah bekeluarga, hanya tersisa anak bungsunya yang insyaAllah akan bekerja untuk dapat menikmati bangku perkuliahan.
Sekiranya itu yang dapat saya tuangkan pada lembar blog saya kali ini... Masih belajar untuk menulis lebih baik. Segala kesalahan datangnya dari saya dan segala kebenaran datangnya dari Allah.
Sekian~
Salam hangat penulis,
Evie
Sumber:
- Pertemuan dengan Ibu Fulanah di senja kala itu
- Rudi, Alsada. (2017). Gaji "Pasukan Oranye" Tahun 2017 Dipastikan Rp 3,3 Juta, Bukan Rp 4 Juta. Jakarta: Kompas.com
http://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/23/20203351/gaji.pasukan.oranye.tahun.2017.dipastikan.rp.3.3.juta.bukan.rp.4.juta
Comments
Post a Comment